Si TAKDIR
Alkisah di kerajaan siklus kehidupan, terdapat Si
Takdir adalah pelalang buana yang menjalani hari-harinya bertemankan nasib
terkininya, yakni Si Bahagia. Hari-hari Si Takdir selalu ditemani Si Bahagia.
Hingga datang suatu hari, terdapat titah dari Si Raja bahwa Si Bahagia harus
pergi meninggalkan Si Takdir, sedangkan Si Takdir akan berganti teman nasibnya
yang bernama Si Sedih. Bahwa Si Raja telah memutuskan saatnya Si Takdir ini
untuk merubah nasibnya.
Keputusan Si Raja adalah keputusan yang bulat tak bisa
dibantah oleh siapapun. Siapa yang melanggar pasti akan berdampak buruk pada
siklus kehidupan. Sebenarnya, Si Bahagia sudah bersiap-siap untuk meninggalkan
Si Takdir, namun ternyata kenangan-kenganan saat bersama Si Bahagia membuat Si
Takdir pilu yang terus menerus memikirkan perpisahannya. Bila Si Takdir meminta
pada Si Raja untuk membatalkan nasibnya, itu jelas hal yang mustahil. Karena
nasib adalah nasib. Ia harus menjalani nasibnya.
Si Takdir ini begitu sayang pada Si Bahagia. Si Takdir
sadar betul bahwa ia tak mungkin terus bersama Si Bahagia, namun Si Takdir juga
tetap merasa tidak bisa melepas Si Bahagia begitu saja.Tersisa satu hari lagi,
hari dimana saatnya Si Bahagia meninggalkan Si Takdir dan berganti teman Si
Sedih. Si Takdir pun kebingungan harus berbuat apa.
Menit demi menit, ia mencoba mencari cara. Si Takdir
pun akhirnya teringat akan dirinya yang memiliki kerabat bernama Si Waktu. Ia
yakin, Si Waktu akan mau membantunya dan menurutnya hanyalah Si Waktu inilah
yang bisa membantunya. Si Takdir memutuskan untuk bergegas pergi mencari Si
Waktu.
Sesampainya bertemu dengan Si Waktu, Si Takdir
langsung menceritakan nasibnya pada Si Waktu. Sedangkan, tak disangkanya bahwa
ternyata Si Waktu tak mau tahu. Si Takdir tak kunjung menyerah, memohon pada Si
Waktu, meminta agar Si Waktu dapat berputar kembali ke masa lalu agar Si Takdir
bisa bersama Si Bahagia dan bisa mengulang kebersamaan yang tak mungkin
tergantikan dengan yang lainnya. Si Waktu tetap tak mau tahu dan tak
menyanggupi permohonan Si Takdir, karena memang Si Waktu tak sanggup
melakukannya. Si Takdir masih bersikukuh mencari cara lain dan akhirnya Si
Takdir mengatakan pada Si Waktu, “Kalau begitu kamu berhenti saja bagaimana,
agar tak ada lagi hari esok yang memisahkan aku dengan Si Bahagia?”. Si Waktu tetap menggeleng, ia tak mungkin
melakukannya, barang sedetik pun ia tak mampu. Namun Si Takdir yang sudah
kalap, tidak mengerti akan kebenaran ketidakmampuan Si Waktu, kerabatnya ini.
Si Takdir pun sangat membenci Si Waktu karena tak mampu membantunya. Padahal Si
Takdir yakin apabila Si Waktu berhenti maka takkan ada hari esok, dan ia tetap
bisa bersama bahagia selamanya. Hingga pikiran jahat akhirnya merasuki dirinya
dan ia memutuskan bertekad penuh untuk membunuh saja Si Waktu. Mungkin dengan
cara tersebut, Si Takdir bisa hidup bersama Si Bahagia.
Si Takdir yang sudah tak bisa menahan hasrat
membunuhnya karena waktunya yang tinggal beberapa detik lagi, saat itu juga ia
membunuh kerabatnya, Si Waktu. Tanpa sadar, bahwa sebenarnya ternyata ia membunuh
dirinya sendiri. Bahwa ternyata ia juga telah membunuh Si Bahagia. Ia menyesal,
sangat menyesal. Si Takdir benar-benar tak menyangka akan seperti ini. Si
Takdir yang baru sadar bahwa ternyata dia akhirnya tetap berpisah dengan Si
Bahagia. Bahwa Si Takdir yang tetap tak bisa merubah nasibnya. Si Takdir pun
menyadari di akhir hayatnya, seharusnya ia jalani saja sesuai titah yang
diperintahkan untuknya tanpa menyakiti siapapun. Dan nasib adalah nasib. Dan
itu pasti terjadi. Tak bisa dihindari. Ternyata saat waktu menyuruhnya berpisah
dengan Si Bahagia tiba terjadi, itu pasti terjadi.
Sepertinya juga, Si Takdir yang telah pergi ke dunia
lain ini sudah bertemu dengan nasibnya
Si Sedih, karena nasib memang takkan bisa dihindari.
-NARU - 2017-
Komentar
Posting Komentar
(: