NEGERI TANPA WARNA

Ketika alam terbentuk. Benturan yang sangat besar menjadikan puing puing terpisah jauh. Masing-masing memiliki kehidupannya sendiri.

Terbentuk sebuah negeri. Negeri yang hidup tetapi seperti mati. Coraknya hanyalah hitam dan putih. Sebenarnya hampir sama seperti di tempat lain. Pohon pohon berdiri tegak, angin berhembus menghempas dedaunannya. Hanya saja, hanya hitam dan putih yang dapat dipandang.

Mereka menyebut lokasinya : Negeri Tanpa Warna. 


Terletak di pinggiran utara. Negeri Tanpa Warna tersebut memiliki hutan lebat dengan sisinya berupa sungai  panjang yang membatasi hutan tersebut dengan desa lain yang menjadi desa tetangganya. 

Di selanya, berdirilah sebuah gubuk tidak begitu besar namun tempatnya mampu menampung empat bersaudara. Mereka terkenal sebagai orang terkuat di pemukiman mereka.

Dari yang paling tua bernama Floro. Posturnya kecil. Ia memiliki kharismatik yang khas, membuat banyak orang segan mendekat. Saudara kedua bernama Kloro. Kloro sangat bersih. Ia adalah ketua kebersihan di lingkup keluarganya. Jika ada kotor sedikit saja (kotornya di negera ini adalah ada noda samar samar antara hitam dan putih) maka ia langsung mengomel. Saudara ketiga adalah bromo. Bromo adalah pelerai jika ada yang membuat mereka bertengkar, ia mampu memberikan situasi menjadi lebih tenang. Dan yang terakhir Iodo, anak terakhir dan yang paling berisi badannya. Iodo memiliki postur tubuh yang berat. Ia paling ditakuti walaupun sebenarnya dia yang paling penakut.


Sang kakak Fluoro adalah kepala salah satu desa negeri tanpa warna. Mereka menamai desanya, Desa Halo. 

Desa Halo adalah desa paling ramah diantara desa yang lain. Kewajiban mereka adalah saling menyapa setiap bertemu. Meski kesan pertama orang luar pasti akan mengira mereka membosankan dan menakutkan, pada kenyataannya mereka adalah penduduk yang senang bergaul dan selalu bergotong royong.


Keempat saudara ini meski terlihat kuat dan sangar tetapi mereka pun sangat ramah, karakternya sesuai dengan hukum yang mereka buat sendiri. Mereka juga selalu menerima kritik dan saran dari penduduk setempat.

Iodo sang adik yang paling gendut suka sekali menyapa meski sapaannya menggetarkan tubuh yang disapa sehingga banyak anak-anak yang salah tanggap dan lari ketakutan saat berjumpa Iodo. Pernah Iodo sambil membawa kayu kering melewati kakek-kakek yang sedang merawat bunganya. "Halo kek." Sang kakek pun bergetar mendengarnya. 


Untuk menjaga keamanan desanya juga Fluoro selalu mengadakan rapat setiap sebulan sekali untuk memantau keadaan rumah per rumah disana. 


"Pak Kades Fluoro, saya akhir akhir ini sering sekali pusing pak. Memikirkan masa depan anak-anak saya. Sekarang saja saya sudah punya enam orang anak. Duh rumah saya begitu sempit."

"Betul pak, saya juga. Sempit sekali desa ini pak. Jumlah turunan kita semakin banyak pak." 

"Lahan rumah kita ini kurang pak."

"Iya pak betul pak"

Banyak sekali gumaman penduduk lainnya dan lama kelamaan menjadi ricuhan. Bahkan teriakan menjadi bergema.

"Pak jika lahan tidak diperluas kita akan mati kecepit pak." Teriak bapak paling ujung belakang.

"Aduh mengerikan sekali" para ibu-ibu mulai berbisik bisik satu sama lain

"Bagaimana nasib anak-anak kita nanti?"



"Oke baik tenang ibu-ibu bapak-bapak sekalian", Bromo menenangkan dengan suaranya yang enak didengar.

"Baiklah. Kami akan mencoba memikirkan cara untuk mengatasi permasalahan ini."  Fluoro mencoba mengambil tindakan.

"Bagaimana cara kiranya untuk mengatasi ini kak?", tanya kloro.

"Aku sebenarnya sudah memikirkan ini. Aku ingin melakukan sesuatu dengan desa ini. Bukan hanya memperbesar tempatnya namun aku ingin memberikan corak keindahan pada desa ini." Terang Fluoro.

"Lalu apakah kamu sudah menemukan caranya?" Iodo ikut bertanya .

"Ya. Aku baru semalam membaca mengenai Hutan Argentum. Di sana kita bisa menemukan sesuatu yang dibutuhkan Desa ini."


Hutan Argentum  letaknya di pertengahan kota. Jarang ada yg berani masuk. Hanya orang yang memiliki tekad kuat bisa masuk ke sana. Menurut cerita orang luar, jika masuk  maka akan sulit untuk keluar lagi. Karena tidak ada petunjuk arah.

Keempat ksatria ini memutuskan untuk pergi kesana. Mewujudkan negeri yang lebih baik. Mewarnainya dengan ketulusan hati para ksatria pemberani.


Dalam perjalanan Kloro kembali bertanya pada kakaknya, "Apa yang akan kita dapatkan di Hutan Aegentum kak?".

"Sebuah pedang." Ketiga saudara itu menoleh pada Fluoro, penasaran.

"Jadi aku berpikir, jika kita ingin memperbesar wilayah maka kita butuh sebuah pedang yang kuat yang mampu memotong pepohonan. Aku ingin memperbesar wilayah dengan menebang pohon-pohon yang sudah tua, saudaraku." Fluoro mencoba menjelaskan.

"Hahahaha. Kau pintar sekali kakakku." Iodo tertawa sehingga daun-daun di sekitar mereka berguguran. 

"Memang sekuat apa pedang itu hingga bisa membabat pohon-pohon yang tebal kak?" Bromo penasaran.

"Konon katanya, pedang itu bisa merubuhkan beberapa pohon dalam sekali tebas. Namun hanya yang bisa mencabut dari tempat asalnya lah yang bisa memiliki pedang itu! Banyak orang menyebutnya Pedang Perak."


Mereka terus menelusuri aliran sungai keluar dari desa menuju kota. Mereka berencana bermalam di kota sebelum masuk ke tengah dimana hutan Argentum berada. Makan malam yang tersaji telah mereka lahap, sebelum akhirnya mereka tertidur lelap.

Pagi buta Bromo menuju beberapa kedai untuk mempersiapkan bekal perjalanan. 

Setelah beres, Bromo membangunkan saudara-saudaranya agar mereka tidak terlalu siang memulai perjalanannya. 

Keempat saudara itupun meninggalkan kota dan menuju ke tengah untuk mencapai titik Hutan Argentum.


Tak terasa matahari sudah berada di tengah kepala mereka. Terik panas terasa, membuat Iodo tidak berhenti mengeluh kepanasan.

Untungnya tidak berama lama saat panas menyergap, mereka sudah memasuki kawasan hutan. Pohon pohon menyejukkan kepala mereka yang terbakar matahari.

"Ayo kita lanjutkan perjalanan menuju tengah hutan." Perintah Fluoro menyemangati saudaranya.

Hingga tiba di tengah hutan, mereka menemukan sebuah gubuk. Terlihat gubuknya cukup terawat karena halaman yang bersih dan berpagar rapih. Dengan adanya tanaman tanaman yang masih menguncup bunganya.

Keempat saudara sepakat untuk menghampiri gubuk itu.

"Permisi apakah ada orang?" Sapa Kloro namun belum ada jawaban.

Sementara mereka mengetuk-ngetuk, ada seorang bapak tua dari hutan yang berjalan menuju gubuk. Bapak tua itu cukup kaget melihat empat orang pemuda yang sehat bugar mengerubungi rumahnya.

Hampir bapak tua itu lari untuk kabur, namun Bromo melihatnya. 

"Permisi bapak, apakah bapak pemilik gubuk ini?" Bromo menyapa sambil mengejar bapak tua yang sudah mau berbelok dan berlari. Untungnya Bromo lebih cepat dan segera menangkap pergelangan bapak tua. Mencegahnya untuk pergi.

"Kalian siapa? Tengah hari begini datang kerumahku. Kalian penagih hutang? Tapi aku rasa aku tidak punya hutang." Bapak itu menggumam.

"Tidak kami bukan penagih hutang. Apakah kami terlihat seperti itu? Hahaha." Bromo tertawa menenangkan ketegangan bapak tua.

"Hmmm kurasa tidak lagipula aku tinggal sendiri di hutan ini. Hahahaha. Lantas kalian mau apa ke tengah hutan ini?" Bapak itu kembali berjalan ke arah rumahnya.

"Alangkah baik nya kita mencari tempat duduk untuk mengobrol bapak." Terang Fluoro dengan ucapan yang tenang dan sedikit menunduk.

Bapak tua berdiam sejenak sambil mengamati keempat saudara itu.

"Baiklah. Lebih baik kita masuk dulu ke dalam rumah. Aku yakin kalian ingin beberapa minum teh segar yang baru kupetik kemarin tentu aku ada beberapa bongkah es di dalam."

Tawaran bapak tua itu sangat menyenangkan terutama Iodo. Dia sangat menyukai teh, dan saat ini dia merasa sangat kehausan.

Sambil mencicipi hidangan yang sudah disediakan, Fluoro menjelaskan maksud kedatangannya. Fluoro menjelaskan keadaan desanya, mencari pedang untuk membuka lahan, hingga akhirnya mereka berkelana ke Hutan ini.

"Kami sedang membutuhkan pedang Perak itu pak. Bagaimana kiranya kami bisa mendapatkan itu? Apakah ada petunjuk disini?"

"Tidak ada." Suasana menjadi hening.

"Tidak ada disini pedang itu.

Dengarkan anak muda. Saya terkenal sebagai Bapak Nitrat. Saya pandai membuat cairan yang bernama nitrat yang kuhasilkan dari ekstrak bahan bahan yang kudapatkan di hutan ini. Cairan ini konon berguna untuk mendapatkan pedang itu. Tapi pedang itu tidak ada disini. Tidak ada dimanapun" 


"Lalu bagaimana kita bisa mendapatkan petunjuk pedang itu?" 

"Itu hanya bisa ditemukan oleh orang yang memiliki cairan Nitrat dan orang yang berhati tulus dan benar-benar membutuhkan. Pedang itu akan muncul dengan sendirinya "

"Bagaimana mungkin?"

"Aku bisa memberikan beberapa ekstrak nitrat yang kumiliki. Lalu kurasa lebih baik kalian pulang ke rumah kalian. Dan petunjuk akan muncul disana."

"Apakah benar begitu?"

"Sepengetahuan orangtua ini ya begitu."

"Baiklah kurasa aku sangat mempercayai ketulusan dari cerita bapak."

Bapak nitrat membalas sambil tersenyum.

"Saya yakin kalian adalah orang baik. Kalian bisa sampai disini itu berarti kalian sudah terpilih. Saya akan dengan senang hati menolong dengan apa yang bisa saya berikan. Bersabarlah maka pedang itu akan muncul tepat saat kalian memiliki keteguhan hati yang kuat atas pedang itu."


Bapak Nitrat memberikan botol cairan kepada keempat saudara itu.

Saat ketiga saudara sibuk melihat-lihat botol cairan, Fluoro kembali bertanya, " apakah benar pedang itu bisa mengeluarkan warna? Saya melihatnya di buku perpustakaan."

"Wahh. Kau tau, selain kemunculan pedang itu berdasarkan kekuatan hati maka mencabutnya pun perlu kekuatan perasaan. Masing-masing perasaan dan emosi seseorang kaan berbeda beda maka warna yang akan muncul pun akan berbeda. Itulah pedang itu juga kadang mengeluarkan warna tersendiri. Tergantung masing-masing individu."

"Terimakasih bapak . Terimakasih atas penjelasan dan bantuan yang luar biasa ini "

Fluoro memberikan hormat yang besar kepada bapak Nitrat.


Keempat saudara kembali pulang setelah mendapatkan nitrat dari bapak tua itu.

Mereka menuruti nasihatnya. Mereka percaya apa yang dikatakan bapak itu.


Setelah sampai di desa, mereka disambut riuh oleh penduduk. Namun mereka masih dalam keadaan bingung karena mereka belum mendapatkan pedang itu.

"Bagaimana ini saudarakuu. Kita belum mendapatkan pedangnya.." Kloro menyatakan kerisauannya. 

"Tenang kita pasti akan cepat mendapatkannya dan segera melakukan sesuatu untuk desa kita." Fluoro menjawab dengan tenang.

Mereka mulai menyapa penduduk sambil tersenyum.

"Sudah tiba pahlawan kita. Apa yang akan kau buat untuk desa ini? Apakah kita bisa memperluas daerah kita?" Tanya seorang bapak tua kepada Fluoro.

"Tenang saja bapak/ibu. Kita akan segera membuka lahan baru. Kita butuh waktu. Beri kami sedikit waktu untuk berbuat.

"Luar biasa. Pemuda pemuda desa yang luar biasa. " Teriak para penduduk setempat.

"Ini ada makanan untuk kalian. Semoga kalian bisa mendapatkan kemudahan." Ibu ibu penduduk disana memberikan jamuan untuk keempat saudara ini.

Mereka menerima pemberian tersebut dan berterimakasih.


Pada malamnya saat beristirahat malam, mereka berbincang. 

"Lalu apa yang akan kita lakukan dengan cairan ini?"

"Aku sudah diberikan pentunjuk oleh Bapak Nitrat, bahwa pedang itu akan muncul dengan sendirinya. Maka rencana selanjutnya adalah besok pagi pagi kita akan berkeliling mencari pedangnya. Ini aku sudah membagi ke dalam 4 botol untuk kalian bawa. Kita akan berpencar. "

"Bukankah lebih baik kita bersama sama mencarinya?

"Iya kak bukankah lebih enak bersama?

"Tidak bisa. Bapak nitrat menjelaskan padaku bahwa pedang ini akan muncul sesuai keteguhan hati masing-masing. Jadi menurutku lebih baik kita berpisah. Siapa yang mendapatkannya maka segera tuangkan cairan itu. Maka kita bisa mendapatkan pedangnya. 

Ketiga saudara itu mengangguk untuk menyetujui perintah Fluoro.


Keesokan harinya mereka semua telah bersiap untuk berpencar ke dalam hutan.

Fluoro ke arah timur, Bromo ke arah Selatan, Kloro ke arah Barat, dan Iodo ke arah Utara.

Mereka sudah menyiapkan bekal untuk keberangkatan.


Fluoro yang pergi ke arah Timur. Berjalan diiringi pohon-pohon berdaun hitam dan berbatang putih.  Terus berjalan sambil sesekali memandang ke atas, ke bawah, ke kanan, dan ke kiri. Melihat-lihat apakah akan ada sesuatu yang bisa menjadi petunjuk.

Begitu juga dengan saudaranya yang lain. Iodo beberapa kali harus beristirahat karena merasa lelah berjalan. Namun saat mengingat kakak-kakaknya yang selalu berusaha, ia kembali menguatkan lagi untuk berjalan mencari pedang.


Sambil memegang cairan Nitrat, sesekali membuka untuk mencium aromanya, Fluoro masih belum menemukan apa-apa.

Bromo terkadang melamun di perjalanan, sambil melihat cairan itu. Kloro mencoba untuk menerawang cairan dengan mengarahkan ke matahari. Mencoba siapa tau ada pancaran petunjuk dari botolnya.

Iodo bahkan dengan kebingungannya, mencoba mengajak ngobrol botol cairan itu, meminta petunjuk.

Mereka berempat berusaha mencari petunjuk dimana pedang itu berada. Lagi-lagi belum ada tanda-tanda yang muncul 

Hingga sore hari telah tiba. Matahari di ufuk barat mulai agak menurun.

Mereka kelalahan. Dan mencoba duduk, berstirahat merebahkan badannya yang lelah berjalan. Fluoro di timur, Bromo di  Selatan, Kloro di barat, dan Iodo di Utara, mereka tiba-tiba merasakan hal yang sama. Entah mengapa mereka merasa bersalah pada desanya. Mereka sama-sama memiliki perasaan tidak enak untuk pulang kalau mereka belum mendapatkan apa-apa dalam perjalanan. Mereka merasa bertanggung jawab atas janji mereka untuk desanya.

Hingga perasaan kuat itu muncul, akhirnya secercah kilauan  cahaya muncul dihadapan mereka. 

Tanpa berpikir panjang, mereka langsung beranjak dan menuju ke tempat cahaya itu berada. Tanpa pikir panjang, mereka berempat sama-sama membuka botol untuk persiapan..

"Ini pasti petunjukknya!" Teriak Fluoro gembira.

Dan tssssss.. benar saja, muncul pedang yang mereka cari!

Pedang itu berwarna abu-abu dan berkilau. Fluoro, Bromo, Kloro, dan Iodo sama-sama langsung menyiramkan cairan itu ke arah pedang dan langsung berusaha mencabutnya. 


Namun.. ternyata tidak semudah itu. Pedang itu masih tertancap di tanah.

"Apa-apaan ini. Aku sudah dengan sekuat tenaga namun tetap tidak bisa mencabutnya." Fluoro merasa geram. Namun dia teringat pesan Bapak Nitrat bahwa kemunculan pedang itu berdasarkan kekuatan hati dan mencabutnya perlu kekuatan perasaan.. 

Fluoro telah meneguhkan hatinya sehingga ia bisa menemukan pedangnya, maka sekarang ia mencoba untuk mengontrol perasaannya agar bisa mengalirkan emosi baik seperti yang diharapkan oleh pedang itu sendiri. Fluoro berharap adik-adiknya akan melakukan hal yang sama. Tidak menyerah dalam hal ini.

Tanpa mereka sadari, perasaan Fluoro pun bisa mengalir melalui alam yang sebagai wadah tertancapnya pedang itu. Emosi Fluoro yang semakin kuat, semakin deras alirannya hingga aliran itu mengukir di tanah. Dimulai dari timur tempat Fluoro berdiri, menuju ke arah Bromo, Kloro, dan Iodo, kemudian kembali lagi berputar menuju ke titik Fluoro berdiri. Saudaranya yang lain pun merasakan perasaan kuat dari Fluoro.

Fluoro dengan jiwa keteguhannya, Bromo dengan jiwa ketenangannya, Kloro dengan jiwa keberaniannya, dan Iodo dengan jiwa ketulusannya. 

Perasaan yang mengalir dalam jiwa mereka memberikan kilauan perubahan warna pada pedang masing-masing. Warna pedang itu berdasarkan emosi masing-masing dari mereka.

Fluoro memunculkan warna coklat

Bromo memunculkan warna krem

Kloro memunculkan warna putih

Iodo memunculkan warna kuning cerah

Tepat saat perubahan warna itu, kilatannya memanggil hujan yang turun dengan derasnya, membasahi desa dan hutan itu.

Dengan keyakinan yang kuat mereka akhirnya mampu mencabut pedangnya

"Splashh..!!"

Pedang itu membuat mereka merasa kuat dan seperti mengajak mereka untuk mengayunkannya ke arah pepohonan sekitar.

"Ttaakkk ttakk ttakkk

Mereka mulai menumbangkan pepohonan di sekitar mereka. Hujan tak menghentikan tindakan mereka untuk memulai tujuan mereka selama ini, yaitu perluasan lahan.

Fluoro merasa bersemangat, karena ternyata bukan hanya ia bisa membuka lahan sesuai harapan penduduk desa, namun ini juga sesuai harapannya.. warna warna muncul, menghiasi hutan dan desa.

Ketika Ia dan juga saudara-saudaranya mulai menebas, setiap tebasan memunculkan kilatan dan meninggalkan bekasnya.

"Ttakkk." Fluoro melihat kilatan kuning yang dihasilkan pedangnya.

"Ttakkk." Kloro menyaksikan dengan takjub munculnya kilatan hijau yang dihasilkan pedangnya.

"Ttakkk." Bromo membuat kilatan merah muda.

"Ttakkk." Iodo sambil terkaget-kaget karena munculnya  kilatan ungu yang dihasilkan dari tebasan pedangnya.

Warna itu pun menyebar kemana-mana, tersembur oleh derasnya hujan dan kencangnya angin yang berhembus. 


Penduduk menyaksikan kemegahan indahnya pemandangan yang tercipta hasil dari kerjaan tangan-tangan terampil pahlawan mereka.

Anak-anak menikmati hujan sambil berlari dan tertawa. Bapak dan ibu mereka memandangi dengan takjub. Mereka belum pernah melihat pemandangan seindah ini.

Hujan membawa warna warna itu bercampur baur menghasilkan warna warna baru yang lain.

Fluoro dan saudaranya telah berhasil akan tujuan yang mereka inginkan.

Setelah merasa cukup besar maka mereka berhenti dari menebas pepohonan. Pedang itu sendiri yang membimbing mereka untuk berhenti. Mereka merasakannya.

Hujan pun dengan kepekaannya berhenti. Fluoro, Kloro, Bromo, dan Iodo segera menuju ke desa untuk menemui penduduk lainnya.

Para penduduk desa segera berbondong-bondong menyiapkan peralatan yang pasti akan mereka butuhkan.

Mereka akan mengadakan Gotong Royong membangun desa yang baru.

Dipimpin oleh Fluoro, Desa Halo telah terbagi dalam kelompok yang memiliki tugas masing-masing. Ada petugas dapur untuk menyiapkan makanan kepada semua pekerja, petugas pengumpul kayu, petugas pembangunan rumah, petugas pembangunan jalan, petugas kebersihan, dan masih banyak tugas-tugas besar lainnya yang harus mereka selesaikan.

"Ini luar biasa bukan. Kita membangun desa yang baru. Ini bukan lagi negeri tanpa warnaaaa!!" Teriak salah satu penduduk 

'iya desa ini sudah tidak kalah indahnya dengan desa desa yang lain."

"Bahkan sungguh indah sekali bukan desa ini."

"Luar biasa.. terimakasih untuk Fluoro dan saudaranya. Kalian memang luar biasa." Seorang bapak tua menjabat tangan Fluoro, kemudian menyusul menjabat tangan Kloro, Bromo , dan Iodo.

"Saya juga, dan saudara-saudara saya mengucapkan terimakasih atas bantuan dan kerja keras dari bapak/ibu desa Halo. Mari kita semua merawat bersama apa yang sudah kita bangun ini. Dan berharap ini akan menjadi tempat yang baik dan menyenangkan untuk kita dan anak-anak lain."

"Hidup desa Halo."

"Hidupppp"

" Hidup desa Halo"

"Hidupppp"

Begitulah kisah negeri tanpa warna yang dengan usaha dan keteguhan hati Fluoro, Kloro, Bromo, Iodo, serta para penduduk desa Halo , mereka mampu memberikan warna sendiri di tempat mereka.

Akhirnya desa itu mampu menjadi lebih indah, jauh lebih indah, karena kerja keras mereka.

-The End-


-NARU -2017-

Komentar