Jono dan Joni
Jono dan Joni adalah kakak beradik. Jono lahir lebih dulu ketimbang Joni. Sepulang sekolah mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Mereka memang tidak pernah terpisahkan. Dimanapun ada jono pasti ada joni. Tapi kali ini sesampainya dirumah mereka tidak mendapati mami nya. Biasanya mami langsung menyambut mereka. Kali ini rumah sunyi senyap.
"Apa kita bakar rumah ini aja ya kak?" Kata Joni polos. Joni memang adik yang polos.
"Huss sembarangan. Kenapa pula harus dibakar hah?" Jawab Jono galak.
"Ya kan kata orang orang kalo mau rame bakar aja." Cuek Joni.
Jono mengetuk ngetuk pintu rumah tapi tak terbalas. Perih rasa hati Jono.
Seakan dicampakan.
Joni mengelus elus pundak Jono seraya berkata "sabar..."
Akhirnya mereka menyerah memanggil dan mengutuk, eh mengetuk. Mereka duduk duduk di teras depan.
"Aku lapar." Celetuk Joni.
"Bukannya kau punya roti. Makan sajalah." Hardik Jono.
"Tidak, itu untuk nanti sore sambil main game." Jawab Joni tegas.
" Bodoh! Apa kau belum dengar peribahasa ini, -makanlah saat kau lapar.- Hah??"
"Tidak untuk yang ini. Ini berharga. Lagipula aku ingin makan nasi"
Jono akhirnya merasa kasian pada adiknya yang kecil dan tidak lucu itu. Hmmm Jono mencoba berpikir..
"Kak jono tak punya uang untuk beli kau nasi, sudah habis uangnya tadi karna kelamaan di kantin. Bagaimana kalau kita cari uang saja."
"Keburu lapar"
"Yeee kalau mau kenyang kita harus bekerja dulu.
"Kerja apa. Emang kita bisa apa?"
Mmmm mereka berdua sama sama lagi mikir.
"Ngemis aja kak gampang ga perlu ngapa ngapain modal tangan menengadah."
Joni mencoba mempraktikan "bang minta bang. Saya belum makan siang."
"Enak aja. Ngemis ga baik untuk kesehatan mental kita. Lagian ya sapa yang bakal ngasih duit ke kakak mu yang tampan mempesona bersinar kemilau ini kalo harus ngemis. Ngaco."
Joni mematung.
"Karna itu lebih baik kita buat pentas. Cocok untuk anak tampan seperti kita."
"Pentas apaan kak, emang ada panggung?"
"Yeee pentas ga perlu panggung, kita nyanyi aja di pinggir jalan sapa tau ada orang yang ngasi."
"Ngamen?"
"Ya bahasa biasanya ngemen. Bahasa bekennya pentas. Heheheeee"
Joni seperti tidak setuju, bulu kuduknya berdiri, tapi ia tahu bahwa Jono sudah bertekad bulat. Kalo jono bertekad sudah bulat begitu tak ada badai yang mampu meng-kotak-an tekadnya.. uwwww
Mereka pun berangkat jalan.
Baru jalan sampe depan pagar buat berangkat pentas eh ngamen , mereka bertemu dengan ibunya yang lagi turun dari ojek.
Joni menghela nafas.
"Bisa bahaya kalo sampe ngamen beneran, bisa digebukin orang orang dijalan ntar karna bikin perut bergejolak.", jerit hati Joni terdalam.
Akhirnya mereka menyambut ibunya penuh suka cita.
-Selesai.-
Inspirasi :
Bodoh! Apa kau belum dengar peribahasa ini, " makanlah saat kau lapar." ? Luffy, chapter 161
xxx curhat xxx
Dulu pengen banget buat cerita kayak Lupus. Slice of life gitu. Tapi cuma jadi ini wkwk
-naru, 27/02/2022-
Komentar
Posting Komentar
(: