KAWAL RATU DILEMA UNTUK BANGSA

 

Pandangan khalayak selalu terbatas pada perempuan itu wajib bisa masak. Jika perempuan sudah bisa masak maka ia dinyatakan lulus dalam menjalankan kodratnya. Padahal pembelajaran mendasar saat duduk di bangku sekolah dasar tentang salah satu perbedaan utama antara laki-laki dan perempuan adalah rahim dan bukan tentang keahlian memasak. Situs resmi United Nation Population Fund (UNFPA) memperkirakan penduduk bumi mencapai 7,7 miliar di tahun 2020. Manusia yang tengah asyik menikmati segarnya dunia tidak terlepas dari peran perempuan yang merelakan perutnya buncit dalam waktu kurang lebih 9 bulan. Hal ini tengah kita sadari bahwa perempuan-perempuan ini tercipta untuk sumber lahirnya generasi penerus bangsa. Dalam rahimnya akan ada perjuangan untuk sebuah raga kehidupan yang terus berkembang. Hingga membentuk sempurna tubuh dengan beragam rupawan. Peran perempuan adalah penting pada tumbuh kembang anak. Kasih sayangnya akan mewarisi cikal bakal masa depan untuk semesta. Perempuan adalah aset yang perlu dijaga agar tidak muncul berita mengenai sebab kepunahan manusia.

Pada kenyataannya, menjaga perempuan pengertiannya sama dengan perempuan harus selalu bisa dalam bertindak dan tunduk. Sering terjadi tuntutan berbagai kalangan yang berlebihan menyebabkan perempuan selalu merasa serba salah dalam setiap hendak membuat pilihan. Ditambah sebagian besar sudah tercipta untuk menjadi peragu. Hal biasa bila kaum hawa bertele-tele pada kebingungannya. Seperti persoalan ragu ingin menggunakan sepatu putih atau hitam, baju merah muda atau merah marun, maupun rambut hitam tergurai atau rambut cokelat keriting.

Hal yang paling memberatkan ketika terbangunnya stigma perempuan harus memilih antara menjadi perempuan berkarir atau perempuan yang hanya diam di rumah. Dalam kasus ini niscaya dapat menjadikan hidup perempuan memasuki fase drama yang berlarut. Aura dilema dengan diselimuti lingkungan yang mendukung keraguannya menjerumuskan perempuan terperosok ke jurang rasa bersalah yang dalam. Perempuan bekerja berpikir bahwa ia akan kehilangan waktunya dengan anak-anaknya. Keuntungan dengan bisa punya duit sendiri, bebas beli apa yang disukai tanpa harus berbelit-belit dengan suami pun akan terlupakan ketika tetangga mulai berbisik, “Kok, anaknya kurus banget.” Perempuan menjadi ibu rumah tangga pun tak akan kalah membuat cerita suram di angan-angannya bahwa betapa inginnya memiliki penghasilan sendiri tanpa harus mengoyak suami hanya untuk sekadar membeli permen lolipop. Sayangnya, pikiran negatif itu kebanyakan datang dari perempuan untuk perempuan yang lain. Rasa egois yang tidak akan bisa terpenuhi tanpa dilandasi rasa syukur yang besar. Lingkaran mereka sendiri yang menciptakan perasaan ingin ini dan ingin itu.

Jangan membuat perempuan saling menghakimi atas kodrat yang sama-sama dijalani. Perempuan harus tegas dalam memilih pilihan hidupnya yang akan mempengaruhi keturunannya dan juga nasib orang banyak pada umumnya. Perempuan bekerja maupun tidak bekerja tetap memiliki kesetaraan untuk bisa sukses pada bidang keduanya, Ia bebas memilih dan tidak perlu menengok kanan dan kiri lagi. Pilihan itu sudah yang paling baik pada versinya. Perlu diingat, sejatinya perempuan paling matang dalam memilih, ia tidak pernah asal memilih, dan kecil kemungkinan salah memilih.

Semua manusia lahir dari perut ibu selain Adam dan Hawa sehingga perihal utama keberagaman manusia adalah karena sosok perempuan. Tidak ada yang menjadi doctor, ilmuan, presiden tanpa perempuan yang mengandung dengan susah payah. Keterlaluan orang yang malah menghakimi hanya berdasarkan status harta dan tahta. Perempuan memiliki potensi berbeda untuk mengurus dirinya juga keturunannya. Perempuan melahirkan keberagaman lewat eksitensi peran yang dilakoni sehingga menjadi inspiratif bagi penerus. Yang dilahirkan akan mengembangkan potensinya sesuai kapasitas dan gaya lingkungan di sekililingnya. Begitu kehidupan terus berlanjut. Tidak akan sama keluarga yang satu dengan yang lain. Kebergaman akan membuat dunia ini lebih seimbang. Perempuan akan selalu menjadi ibu anak-anak bangsa. Tidak akan terlupa kodratnya. Bertugas menjaganya adalah bertugas menjaga bangsa.

-NARU/ 23/10/2020-

Komentar