Ayam dan Burung Kecil
Suatu hari, tinggalah di hutan sebuah keluarga ayam
hutan. Ada bapak ayam, ibu ayam, dan dua anaknya. Anak-anak dari bapak dan ibu
ayam ini masih kecil-kecil. Mereka baru menetas beberapa saat yang lalu.
Untuk itu, bapak ayam ini sangat berjuang keras untuk
memenuhi kebutuhan keluarganya, apalagi sudah ditambah dengan dua anaknya yang
imut dan lucu. Bapak ayam harus mencari makanan untuk memenuhi kebutuhan gizi
buah hatinya. Sedang ibu ayam yang bertugas menjaga rumah mereka dan
anak-anaknya.
Pagi-pagi sekali bapak ayam sudah berkokok, pamit pada
istri tercintanya,”Aku pergi dulu ya, doakan aku pulang dapat membawa banyak
makanan.”
Bapak ayam ini pun mulai menyusuri hutan untuk mencari
apa yang bisa dimakan. Biasanya ia akan menemukan biji-bijian yang sudah jatuh
dari pohonnya. Tapi setelah lama ia berjalan, ternyata ia belum menemukan
makanan yang layak dimakan. Ada beberapa buah-buahan namun sudah tidak bisa
dimakan karena keras, dan itu tidak bisa ia beri kepada kedua anaknya yang
masih kecil. Tidak ada yang masih segar, ia hanya menemukan daun-daunan yang
mulai mongering. Bapak ayam pun merasa sangat kelelahan sehingga ia memutuskan
untuk beristirahat sebentar di bak pohon. Saat ia mengistirahatkan badannya,
tiba-tiba seekor burung kecil menghampirinya.
“Hai ayam, kenapa mukamu lesu sekali?”, sapa burung
kecil yang merasa kasihan melihat bapak ayam. “Aku sedang mencari makanan untuk
keluargaku, tapi coba kau lihat di tanah yang kususuri selama tadi, belum ada
satu pun yang bisa dimakan.”, cerita bapak ayam pada si burung kecil.
“Oh jadi karena makanan, sebenarnya ada banyak sekali
biji-bijian di atas pohon itu.”, burung kecil menunjuk ke pohon yang menjadi
tempat istirahat bapak ayam tersebut. “Tapi bagaimana caranya aku ke atas
sana?”, bapak ayam mulai merasa berputus asa. “Sayapku tidak seperti sayapmu
yang bisa terbang.”, protes bapak ayam. “Tak apa, akulah yang akan terbang dan
bapak ayam tetap di sini.”, burung kecil itu mendapatkan ide yang sangat
brilian.
“ Ayam kan bisa berjalan lebih cepat daripada aku,
bagaimana kalau aku yang mematuk biji-bijian itu dan ayamlah yang mengumpulkan
biji-bijian tersebut di bawah? Nanti hasilnya kita bagi dua. Jujur saja aku
butuh simpanan makanan juga karena setiap malam hari aku kelaparan.”, kata
burung kecil mencoba memberikan solusi. Bapak ayam pun sangat setuju dan merasa
senang sekali karena akhirnya bisa mendapatkan makanan. Bapak ayam mulai
mengumpulkan biji-bijian yang terjatuh dipatuk si burung kecil.
“Apakah sudah cukup?”, Tanya burung kecil yang pintar itu. “Ya, saya rasa ini sudah cukup, sesungguhnya aku sangat iri sekali melihatmu bisa terbang bebas seperti itu.”, keluh bapak ayam. “Tidak perlu iri, sebenarnya bukankah ini gunanya perbedaan. Adalah untuk saling tolong menolong. Besok kita akan bertemu lagi disini dan kita bisa sama-sama selalu mendapatkan biji yang segar. Ok.”, jelas si burung kecil. “Oh terima kasih banyak burung. Kau sungguh sangat baik. Aku senang bertemu denganmu.”, bapak ayam pun amat sangat bahagia. Bapak ayam juga bisa pulang membawa makanan yang bagus-bagus untuk keluarganya.
-NARU - 2017-
Komentar
Posting Komentar
(: