Negeri Angin
Angin selalu berhembus
disini. Aku sedang duduk santai memandang baling-baling bekerja untuk
menghidupi kota ini. Dari baling-baling inilah tempat tinggalku dapat hidup.
Baling-baling itu sangat besar, terdapat tiga sayap utama berhorizontal yang
berputar melingkar menghadap ke atas, tengahnya terdapat sumbu putarnya. Aku
selalu merasa heran, mengapa baling-baling itu tak pernah berhenti berputar.
Kata orang-orang, baling-baling itu adalah nyawa kami yang bila kita cabut dari
akarnya maka kita semua akan mati. Dan tidak boleh ada seorang pun yang
coba-coba untuk mendekatinya, selain betapa kencang kekuatan angin disana, juga
terdapat lubang yang besar tepat di bawah sumbu putar baling-baling itu.
Terlihat dari jauh memang ada lubang yang gelap sehingga nampak menyeramkan dan
penduduk kota menamainya sebagai Lubang Hitam.
Pernah dulu ada seorang
wanita yang mendekati ke sana dan dia tak pernah kembali lagi. Semua itu masih
menjadi misteri bagi kota ini. Di sekolahku juga terdapat pelajaran yang
membahas mengenai Lubang Hitam tersebut. Berbagai hipotesa menyampaikan bahwa
dimungkinkan adanya kehidupan lain yang ada di bawah sana. Namun aku masih
belum begitu mengerti dan aku sungguh penasaran dengan itu. Terbesit niat untuk
mendekatinya namun aku masih ragu.
Aku butuh banyak
informasi mengenai lubang hitam itu. Apakah memang benar apabila masuk ke sana
maka akan menemukan kehidupan lain disana? Menemukan makhluk yang mungkin sama
persis denganku. Dan bila benar, kehidupan seperti apa yang ada disana?
“Leo,” teriak Sam menyadarkan lamunanku.
“Besok ada tugas dari bu guru kita,” terangnya. “Benarkah?” jawabku dengan nada
malas. “Tentu saja! Kalau tidak aku tak disini memanggilmu.”
Aku benar-benar lupa bila
ada tugas hari ini, padahal aku sedang bersantai begini. Aku segera pulang
bersama dengan Sam untuk segera mengambil buku tugasku. Sampai di rumah aku
menyuruh Sam menunggu di depan sementara aku mengambil bukuku. “Pelajaran apa
yang ada tugasnya?” teriakku dari dalam rumah memastikan buku yang harus aku
keluarkan. “Pelajaran Makhluk Asing Le,” balas Sam. “Kau benar-benar lupa
sungguh keterlaluan!” gerutu Sam.
“Lalu, bagaimana cara mengerjakan ini?”
aku mulai membuka lembaran pertama yang berisi sebuah soal yang sangat
menyulitkan.
“Bila
benar adanya makhluk asing di dalam Lubang Hitam maka bagaimana kalian
menggambarkan/ mengisahkan makhluk asing tersebut? Jelaskan menurut imajinasi
kalian masing-masing. Diskusikan bersama teman kelompok sebanyak dua orang
saja. Besok ceritakan diskusi kalian di depan kelas.”
Aku tak bisa memikirkan
apapun. Tak ada sekelebat bayangan mengenai makhluk asing itu. Sam kawan
diskusiku apalagi. Memahami soal ini saja butuh berulangkali membacanya. Sam
hanya mampu membolakbalikkan bukuku. Tak ada diskusi apapun yang bisa kita
sampaikan saat ini. Suasana hening karena kita sama-sama hanya terpana dengan
daya tarik soal ini. Hingga kita mendapatkan kesepakatan pemikiran yang sama
mengenai ini, yaitu kita akan pikirkan ini dalam semalam nanti.
Suatu malam pun akhirnya
tiba di negeri Angin ini. Dingin sangat menyergap negeri ini bila malam datang.
Namun aku sudah terbiasa dengan angin malam yang hadir. Aku berjalan menyusuri
tanah lapang yang ada di depan rumah-rumah. Nikmat sekali rasanya berjalan
malam-malam di negeri angin, beban pikiran serasa terlepas perlahan-lahan. Yang
tersisa hanyalah ketenangan. Malam-malam begini biasanya sudah sepi karena tak
ada yang berani keluar malam-malam.
Tak kusangka aku berjalan
lumayan jauh dan baru kusadari bahwa aku ternyata sampai di tempat tadi siang
aku duduk bersantai. Tepatnya di depan baling-baling raksasa itu. Aku pun
memutuskan untuk beristirahat sejenak terlebih dahulu baru nanti aku akan
kembali pulang. Saat aku ingin duduk tiba-tiba aku mendengar suara gaduh. Suara
itu mengarah ke baling-baling. Aku merasa amat penasaran. Aku tak jadi duduk,
aku beranikan diri untuk mencoba mendekati sumber suara itu. Suara itu berisik
sekali seperti suara mesin yang amat besar namun sedang konslet. Tumben sekali
baling-baling itu seberisik itu.
“Leo, itu apa? Ada cahaya
disana!” aku menengok ke belakang dan kudapati wujud Sam yang sudah seperti
orang bingung. Sejak kapan dia mengikuti aku, aku membatin dalam hati. Suara
bising itu lambat laun terhenti dan cahaya di sana pun meredup. Aku berlari ke
sana dengan Sam yang mengikutiku dari belakang. Benar kata orang-orang bahwa
untuk maju kesana kami harus melawan angin yang begitu deras. Tentu saja kami
tak menyerah karena kami begitu penasaran. Kami kuatkan seluruh badan kami
untuk melawan angin. Sempat aku tak tahan dan mundur kalah melawan angin,
untungnya Sam yang lebih besar dariku mendorong untuk maju terus. Dan akhirnya
kami berhasil melawan angin dan tiba di area bawah baling-baling raksasa yang
ternyata tak ada arus angin sedikitpun di sini. Dan tepat seperti apa yang
orang-orang katakan, terdapat lubang besar yang gelap pekat dan cukup terlihat
menyeramkan. Aku mengernyitkan dahi saat melihat ada sebuah mesin tergeletak
agak dekat dengan lubang hitam itu. Mesin itu berbentuk piringan lumayan besar
dengan ada benjolan di atasnya, seperti ada roti bulat yang ada di atas piring
dan siap untuk disantap. Melihatnya membuatku merasa lapar.
“Leo, ada yang bergerak
keluar dari mesin itu,” bisik Sam ditelingaku. Makhluk itu kecil sekali. Aku
butuh menunduk untuk melihatnya dengan jelas. Ada dua makhluk yang satu memakai
celana panjang dengan rambut hitam tergurai panjang dan yang satu lagi memakai
celana pendek dengan tidak ada rambut sehelaipun dikepalanya. Mereka berjalan
terhuyung-huyung seperti tidak tahu arah. Lalu mereka mendapati kami yang
sedang asyik memperhatikan, mereka sadar akan hal ini. Mereka menganga bingung
kemudian wajah mereka terlihat ketakutan. Mungkin karena badan kami yang lebih
besar. “Hai,” sapaku. Sam menarik lenganku aku tak mempedulikannya. “Apa kalian
dari negeri sana?” aku menunjuk ke arah lubang hitam. “Tak apa aku tak akan
memakanmu. Aku Leo dan ini temanku Sam,” lanjutku. Sam mencoba menyapa dengan
melambaikan tangannya dan tersenyum bodoh layaknya Sam.
“Aku John,” kata si tak
ada rambut. “Dan aku Lily,” tambah si yang berambut panjang. Lily amat cantik
saat dia melihatkan senyumnya pada kami. “Kami berasal dari bumi. Sebenarnya
kami hanya akan mengelilingi langit kami namun tak kusangka ada kehidupan lain
di langit,” terang John dengan muka terpana. “Kami pun tak menyangka dengan
kalian yang tiba-tiba muncul seperti ini,” Sam memberanikan diri untuk ikut
berbincang. “Bagaimana kalian bisa kesini?” tanyaku penasaran. Lily memajukan
dirinya ke arahku lalu duduk bersila diikuti John yang duduk disampingnya.
Akupun mengajak Sam untuk ikut duduk di depan mereka.
“Aku tidak tahu tiba-tiba
kami bertemu kabut yang sangat tebal sehingga kami tak bisa melihat apapun.
Kupikir kami akan mati di sana. Sampai kami bertemu lubang hitam di depan
perjalanan kami sehingga mau tidak mau kami masuk ke dalamnya. Akhirnya kami
sampai di sini,” jelas lily padaku dan Sam.
“Dan kami pun merusak
pesawat kami karena pendaratannya tak berjalan mulus. Melewati lubang hitam itu
akan sedikit mengoyakkanmu. Aku merasa ngeri sekali melewatinya,” tambah John.
Aku cukup mengerti tentang apa yang mereka alami.
“Boleh kamu naik ke tanganku. Aku ingin
melihat dirimu lebih dekat,” aku mengulurkan tanganku pada Lily. Aku masih
penasaran seperti apa wujud yang ia miliki. Lily pun mengiyakan dan bangkit
dari duduknya lalu melompat ke atas tanganku. Namun tak kusangka dia menembus
tanganku, tanganku seperti bisa bolong begitu saja. Aku cepat-cepat menarik
tanganku, aku takut kalau tanganku tak utuh lagi. Aku merasa lega saat melihat
tangan ku bisa kembali utuh. Sam mencobakan tangannya pada John, dia ingin
memungut John tapi dia tidak bisa untuk memegang John. Mereka menyadari sesuatu
atas kelakuan kami tadi. “Kau makhluk angin,” kata John. Negeriku memang
semuanya menggunakan angin dan angin disini bisa diambil dan dibentuk sesuka
hati sesuai kebutuhan. Sedikit tak menyangka juga bahwa ternyata aku pun adalah
angin.
“Tapi kalian begitu mirip dengan kami.
Sangat persis. Wujud kalian pun mirip dengan kami. Tak ada bedanya sedikitpun,”
terang John. Lily seperti sudah tak bisa berbicara lagi. Dia begitu terkejut
melihat ini semua. “Dan bila aku angin maka kalian apa?” tanyaku lagi. “Aku
adalah manusia. Manusia yang terlahir dari manusia,” John mengatakan dengan
mantap. “Ah, Lily kita harus kembali ke bumi bagaimanapun caranya. Ada keluarga
yang sedang menunggu kita. Kalau kita tak bisa kembali bagaimana ini? Aku sudah
ada janji dengan istriku nanti untuk makan bersama,” John mulai kebingungan
lagi dan dia menghampiri mesinnya. Entah apa yang akan dilakukannya. “Baik
John, mari kita coba perbaiki dulu pesawat kita,” jawab Lily.
“Kalian memiliki
keluarga?” kali ini Sam merasa penasaran. “Tentu saja,” Lily menjawab dengan
senyumnya lagi. “Kalau begitu sama seperti kami. Kami juga punya keluarga. Ayah,
ibu, dan saudara,” jelas Sam. “Bahkan kami juga punya teman. Apa di tempat
kalian memilikinya?” tambahku. “Aku dan John berteman Leo. Jadi di tempat kami
pun ada teman. Kita tak mungkin tinggal sendirian bukan? Karena bila kita
tinggal sendirian, hidup kita pasti takkan hidup. Melainkan kita akan mati
kebingungan,” Lily menjelaskan dengan santun. Indah mendengar suaranya.
“Apa menurut kalian
tentang arti teman?” tanyaku lagi pada Lily sedangkan John sedang sibuk
memperbaiki mesinnya. “Apa ya? Teman adalah yang sangat dibutuhkan dalam
situasi dan suasana apapun. Saat senang kita pasti membutuhkannya karena kita
tak pernah bisa untuk tertawa sendirian. Apalagi saat sedih, kita pasti sangat
membutuhkannya. Meskipun hanya sekedar disampingnya saja tanpa berbuat apapun,”
kata-kata Lily yang bijaksana. “Ahh, bolehkah kita berteman, aku, kamu, Sam,
dan juga John?”. Lily tersenyum lagi dan kemudian mengangguk. “Kalau begitu aku
adalah orang yang dibutuhkan kalian. Apa kiranya yang bisa membantu kalian?” gumamku.
“Ahh sial, kita kehabisan bahan bakar
Lily,” gerutu John.
“Apa itu bahan bakar?” tanya Sam.
“Bahan yang untuk menggerakkan pesawat ini
biar terbang,” kata John sambil menggerakkan tangannya ke atas.
Sam mendekat ke mesin
lalu mengamati lekat-lekat ke mesin itu. Karena tak bisa memegang mesin itu dia
hanya melihatinya saja, dari bagian atas, samping kanan, dan samping kiri,
serta depan dan belakang, sedangkan bagian bawah tentu dia tak bisa melepasnya.
Hasilnya tak ada yang mampu dia perbuat. Sam hanya bisa menarik nafas lalu
membuang nafasnya tepat di depan mesin itu. Mesin yang terkena hempasan angin
dari hidung Sam pun bergoyang naik ke atas lalu terjatuh lagi. “Bedebummm”.
Kami bertiga menganga melihat tingkah Sam yang bodoh namun memberikan ide untuk
aku, Lily, dan John. “Kita bisa pulang Lily. Kita bisa pulang.”, teriak John
kegirangan. “Kita bisa pulang John. Syukurlah,” Lily tak kalah senang.
Sekarang Sam yang
kebingungan melihat kita bertiga bahagia. Sam masih belum mengerti. Tentu saja
bila mesin itu bisa diangkat dengan tenaga tiup dari aku dan juga Sam maka
mesin itu bisa terbang ke atas kemudian mengarahkan mesin itu ke arah lubang
hitam sehingga bisa membawa Lily dan John melewati lubang hitam yang bisa
memulangkan mereka untuk kembali ke dunia manusia. Setelahnya, Lily dan John
sudah menyiapkan parasut untuk lepas landas di tempat mereka. Setidaknya mesin
mereka masih berfungsi untuk digerakkan sampai menuju ke Negara mereka.
Kami sudah memikirkan itu
matang-matang. Beribu resiko yang mungkin akan John dan Lily hadapi namun aku
sebagai teman barunya hanya bisa mendoakan mereka agar selamat sampai tujuan.
Kami pun telah menyusun rencana matang-matang dan kini kami sudah siap untuk
melakukkannya.
“Sam terima kasih
banyak,” John mengulurkan tangannya dan Sam mengikuti gaya John mengulurkan
tangan, tangan mereka bertemu, menyentuh sejajar. Lily pun melakukan hal yang
sama padaku. Lalu bergantian dengan John. “Leo terima kasih banyak juga,” kata
Lily.
Mereka mulai berjalan
masuk ke mesin terbang mereka. Aku dan Sam pun siap untuk menerbangkan mereka.
“1, 2, dan 3,” kodeku pada Sam berbarengan. Kami meniup mesin terbang itu lalu
mengarahkan ke lubang hitam dan melepaskan mesin terbang tenggelam ke dalam
gelapnya lubang. Selamat jalan, semoga kalian bisa terjebak datang lagi kemari,
batinku.
Aku tak akan pernah bisa untuk menyusul ke
dalam dunia gelap itu. Aku adalah angin sedangkan mereka bukan dari angin. Bila
aku ke dunianya bukankah aku pasti akan hilang bertaburan karena tak bisa
menyentuh apapun. Aku tak akan pernah berniat lagi untuk masuk ke sana. Aku
sudah mengetahuinya. Malam semakin larut dan sepertinya akan segera berganti
pagi. Aku dan Sam harus bergegas kembali pulang ke tempat tidur dan menganggap
bahwa semua yang kami lalui hanya mimpi belaka, namun tanpa melupakan setiap
detik yang terjadi di malam ini.
Keesokan paginya, aku dan Sam berjalan ke sekolah bersama-sama. Kami sudah siap akan tugas kami. Kami siap untuk bercerita panjang lebar mengenai bayangan kami tentang makhluk asing yang ada di lubang hitam. Kami siap menampung segala macam pertanyaan karena kami akan menjawab dengan segala pengetahuan yang kami punya, yang sebenarnya telah terjadi nyata pada kami. Aku menceritakan semuanya tentang apa yang telah terjadi semalam. Meskipun mereka tidak tahu bahwa yang aku ceritakan itu adalah kisah nyata.
- NARU - 2019-
Komentar
Posting Komentar
(: