Senja dan Fajar
Rumah
akan sepi bila adikku pergi, ayah dan ibu sedang bekerja, biasanya pulang larut
malam. Bila sudah begini, yang kulakukan hanyalah mengerjakan tugas kuliahku
yang menumpuk. Maklum saja, aku mengambil jurusan kimia yang laporannya begitu
banyak. Setiap praktikum selalu harus membuat laporan, laporan, dan laporan.
Tahun ini adalah tahun terberatku. Sudah tak ada waktu luang yang kupunya.
Karena selain mengurus kuliah akupun harus mengurus adikku.
Setiap
pagi, adalah pekerjaan beratku. Aku harus mengantar adikku ke sekolah dan
berangkat kuliah. Padahal malamnya aku sudah lembur tak bisa tidur karena
pekerjaanku. Sering aku mengeluh pada ibuku tetapi tak pernah ditanggapinya.
Sampai rumah selalu langsung tidur. Namun bila aku tak mengurus adikku,
bagaimana aku bisa tahu perkembangan masa tumbuhnya. Aku takut dia berjalan di
jalur yang salah. Dilihat-lihat, kawan-kawan yang ada disampingnya begitu
dewasa. Aku jadi takut, Fajar akan terpengaruh yang tidak-tidak.
Pernah
kemarin, dia bermain handphone, dan ternyata yang kulihat sangat parah. Ahh
iya,aku tak ingin membayangkannya lagi kejadian saat itu. Ahh, ini membuatku
kesal. Aku mencoba melupakan lagi kejadian itu, aku berjalan keluar rumah, ada
banyak tanaman di depan rumahku, mungkin bisa sedikit melegakan pikiranku. Ahh,
masih mengesalkan sekali mengingatnya. Aku ingat lagi, aku menceritakan semua
kejadian tentang adikku itu pada ibu dan ayah yang sudah kutunggu dari malam
hari. Tapi, yang kudapat hanya kemarahan mereka. Mereka memarahi kami berdua.
“Kamu sebagai kakak, Cuma masalah seperti ini saja tak bisa menghanddlenya!”,
bentak ibu. Sedangkan ayahku, membanting handphone didepan adikku yang sudah
menangis tersedu-sedu sambil marah-marah. Aku hanya bisa menyabarkan diri saja.
Tak berani berkutik, takut menambah panas suasana.
Semilir
angin berhembus sejuk, seakan menghiburku. Aku mencoba tak mengingat lagi,
dengan memikirkan hal yang lain. Musim panas memang paling enak duduk-duduk di
bawah pohon seperti ini. Apalagi halaman depan ini seperti taman. Saat ibu
tidak sibuk dulu, ibu memang rajin merawat tanaman ini. Ibu sering mengajariku
bagaimana merawatnya. Dan masih kulakukan sampai sekarang. Aku takkan tega bila
ada tanaman yang rusak. Mengingat dulu, itulah yang membuatku bisa sabar untuk
menanti kepulangan ibu dan ayah. Mereka begitu banyak waktu untukku. Disaat
kesuksesan berpihak pada mereka, entah mereka mungkin hanya berpikir, anakku
membutuhkan biaya, dan aku harus bisa memenuhinya.
Tak
terasa hari sudah semakin gelap. Matahari pun sudah hampir menenggelamkan
dirinya di ufuk barat sana. Tapi aku masih menanti Fajar, dia belum kembali.
“Senja..”,
tiba-tiba ada yang memanggilku. Aku menengok ke luar pagar. Ternyata ibu RT
yang memanggilku. “Kenapa ibu RT datang sore-sore seperti ini?”, jawabku sambil
membuka pintu gerbang masuk. Ibu RT terlihat marah, mukanya sedikit merah,
entah karena cahaya sore atau karena dia sedang marah. “Fajar, adikmu, pingsan
di gardu pos ronda. Sepertinya dia ikut-ikutan merokok sama temen-temennya dari
kampung sebelah itu. Sekarang mau di bawa ke rumah sakit naik mobil pak RT.
Lebih baik kamu ikut saja sekarang.” Begitu shoknya aku mendengar kalimat itu.
Aku langsung berlari ke rumah pak RT. Aku langsung masuk mobil dan melihat
adikku yang sedang kesulitan bernafas. Bagaimana mungkin dia berani-beraninya
merokok padahal dia punya penyakit paru-paru. Tanpa merokok saja kadang kambuh.
Ingin aku memarahinya saat itu juga. Ingin sekali aku menamparnya. Namun tak
ada daya aku melakukan itu semua, aku
hanya bisa diam dan memangku adikku sambil ku pegang erat tangannya yang
dingin. Mukanya begitu pucat, seakan tahu semua kesalahannya. Dia pun memegang
erat tanganku. Sepertinya dia kesakitan.
Aku
menunggu cemas di depan ruang perawatan adikku. Orangtua tentu langsung
kuhubungi sesampai di rumah sakit. Aku tak tahu, sabarku selama ini menghilang
sejak kedatangan bu RT saat senja tadi datang. aku tak marah pada Fajar, tidak.
Aku sangat sayang padanya. Bahkan justru aku merasa bersalah, meskipun aku
sibuk dengan tugasku seharusnya aku masih bisa mengontrol adikku.
Tapi
hari ini aku tetap ingin marah, sangat marah, perasaan marahku sangat memuncak.
Aku sedang menanti kepulangan ayah dan ibuku. Kesendirianku di ruang tunggu
saat ini, membuat pikiranku jauh berpikir, menyusun rencana untuk
pemberontakan. Karena aku tahu, Fajar sudah meronta, Senja pun harus bisa
melanjutkan kisah ini, dan menutupnya dengan bijak. Menutup segala pemikiran
dimana kami butuh perhatian dan kasih saying mereka, bukan hanya uang mereka.
Tidak hanya dengan memarahi kami saat kami terlanjur bersalah, namun tak pernah
membimbing hidup kami sedikitpun. Memberi nasihat sebelum kami berlaku salah.
Memberi contoh yang baik agar kami berlaku baik. Uang memang penting untuk
hidup kami, tapi apalah arti uang bila hati ini juga merasa hampa.
Aku
masih menunggu kehadiran orangtuaku. Aku terus berulangkali melihat jam tanganku.
Masih jam tujuh malam orangtuaku masih belum datang juga. “Senja, bagaimana
keadaan adikmu?” teriak suara wanita, yang jarang sekali aku mendengarnya
berteriak sekencang itu. Muka wanita itu pucat sekali, terlihat sangat
khawatir. “Fajar, apakah dia baik-baik saja.”, tanya seorang laki-laki yang
berlari mengejar wanita itu. Mereka ibu dan ayah yang sudah kunanti sejak tadi.
Sekarang muka ibu dan ayah sudah ada di hadapan wajahku. Mereka menantiku untuk
menjawab pertanyaan mereka, namun entah mengapa bibir ini tak bisa bergerak
sedikitpun. Ada rasa marah yang tak tertahan tapi ada juga rasa kasihan karena
melihat mereka yang begitu lelah dan khawatir, bahkan terlihat menua. Mataku
mulai berkaca-kaca dan akhirnya menetes tepat disaat ibuku memelukku. “ibu,
minta maaf nak”, ibupun ikut menangis.
Ibukku
menyesali perbuatannya kali ini. Dia benar-benar merasa terpukul akan
kesalahannya selama ini. Ayahkupun mempunyai perasaan yang sama. Mereka
menangis di depanku, memelukku dengan terisak. Malam pun masih berlanjut, aku,
ibu, dan ayah masih menunggu berharap ada keajaiban untuk adikku. Adikku masih
terkapar di ruang ICU, belum sadar. Aku mulai mengantuk dan tertidur, dalam
hati masih selalu berharap agar esok hari fajar masih muncul untuk
membangunkanku.
Aku
terbangun, aku mendengar suara ibuku yang sangat keras. “Fajar…”,teriak ibuku.
Kupikir fajar sudah sadar, tapi mengapa ibu berteriak kencang sekali, aku heran
dengan keadaan itu. Aku menengok ke kamar fajar yang sudah dikelilngi oleh
banyak orang. Kasur fajar tertutupi oleh adanya ayahku, ibuku, dokter, dan
perawat-perawat lainnya. Ayahku terduduk lemas, sedangkan ibuku memeluk fajar
dengan erat. Fajar terdiam dipelukkan ibu. Ibu mulai berangsur-angsur merasa
tenang dipelukan fajar. Namun aku masih bingung dengan keadaan ini. “Bagaimana
keadaan Fajar dok, apa dia baik-baik saja?” tanyaku pada dokter yang hendak
keluar dari ruangan. “Maaf nak, adikmu fajar sudah tak mampu bertahan untuk
hidup lagi. Maaf atas ketidaksanggupan kami untuk menolongnya.” Jelas dokter
itu padaku. Aku hanya bisa mulai meneteskan air mata, mendekati ibukku dan
memeluk ibuku dengan erat.
“Kau
tahu nak, kenapa ibu dan ayah menamai kalian Senja dan Fajar?”ibukku mulai
membuka pembicaraan saat kami selesai
menyirami dan memberi bunga di tanah kubur Fajar. “Itu karena kami berharap kalian bisa saling
melengkapi di dalam keseharian kalian dan juga keseharian kami. Sehingga kita
tak pernah merasa sendiri dan selalu semangat dalam hidup. Disaat ayah dan ibu
sibuk bekerja, kalian tetaplah yang membuka hari ayah dan ibu, serta
menutupnya. Membuka dengan fajar dan menutup dengan senja. Itulah yang mebuat
kami bersemangat untuk bekerja. Dan kebetulan sekali juga, kau Senja lahir
disaat senja dan Fajar lahir saat fajar tiba.”, terang ibukku sambil ada senyum
dibibirnya. Aku tak mampu menjawab apapun, karena aku tak tahu harus berkata
apa. Aku hanya terdiam. “Mungkin selama ini kita tak menyadari, bahwa bukan
hanya anak saja yang melengkapi keduaorangtuanya, tetapi peran orangtua harus
membuat anak merasa lengkap dalam kesehariannya. Dulu kami pikir dengan kalian
berdua saja di rumah sudah terasa lengkap dan kami berusaha mencari uang agar
kehidupan kalian bisa terpenuhi dengan baik, agar kami bisa membelikan apapun
yang kalian ingini. Tetapi ternyata pendapat kami salah. Kalian merasa
kehilangan kami, dan tak punya tujuan untuk hidup. Tak punya pelengkap dalam
hidup kalian. Sehingga kalian tak semangat untuk hidup dan tak ada akal lagi
untuk membedakan mana yang baik dan buruk.”, lanjut ibu. “Maafkan ayah dan ibu
nak”, ibu memalingkan wajahnya ke arahku. Aku pun menjawabnya dengan senyuman
lalu memeluk ibuku, dan ayahku memeluk kita berdua. “Ayah juga minta maaf
nak.”bisik ayah.
Fajar
telah tiada. Bagaimana senja merasa lengkap tanpa adanya fajar. Senja pasti
akan lelah bila tak ada fajar. Tak ada yang menemani lagi dalam waktu sehari.
Dimana biasanya fajar yang membuka hari dan senja yang menutup hari. Senja
pasti akan merasa lelah untuk hidup karena tak ada yang membantunya membuka
hari. Dia harus berusaha sendirian untuk mengindahkan harinya. Tak akan ada
fajar-fajar yang lain yang bisa menganti fajar untuk menemani senja. Tetapi aku
yakin, adik kesayanganku, kini sudah benar-benar menjadi fajar yang muncul di
pagi hari. Tak mengapa tak ada wujudnya, tapi aku yakin, dia selalu akan datang
saat fajar mulai di ufuk timur, dan aku masih akan bisa menyapanya lalu
mengajaknya pulang saat senja di ufuk barat telah datang.
-NARU - 2016-
Komentar
Posting Komentar
(: