Senja dan Fajar

“Kak, aku mau keluar ya. Mau main sama temen-temen. Itu udah pada nunggu di luar”, mohon adik laki-lakiku dengan tampang memelas kepadaku. Adikku yang masih SMP kelas 2, adikku yang masih memasuki masa remajanya, satu-satunya saudara yang kupunyai. Sambil menilik jendela untuk memastikan teman-temannya yang hadir, akupun menjawab,”Iya Fajar, hati-hati ya. Jangan malem-malem pulangnya.”

Rumah akan sepi bila adikku pergi, ayah dan ibu sedang bekerja, biasanya pulang larut malam. Bila sudah begini, yang kulakukan hanyalah mengerjakan tugas kuliahku yang menumpuk. Maklum saja, aku mengambil jurusan kimia yang laporannya begitu banyak. Setiap praktikum selalu harus membuat laporan, laporan, dan laporan. Tahun ini adalah tahun terberatku. Sudah tak ada waktu luang yang kupunya. Karena selain mengurus kuliah akupun harus mengurus adikku.

Setiap pagi, adalah pekerjaan beratku. Aku harus mengantar adikku ke sekolah dan berangkat kuliah. Padahal malamnya aku sudah lembur tak bisa tidur karena pekerjaanku. Sering aku mengeluh pada ibuku tetapi tak pernah ditanggapinya. Sampai rumah selalu langsung tidur. Namun bila aku tak mengurus adikku, bagaimana aku bisa tahu perkembangan masa tumbuhnya. Aku takut dia berjalan di jalur yang salah. Dilihat-lihat, kawan-kawan yang ada disampingnya begitu dewasa. Aku jadi takut, Fajar akan terpengaruh yang tidak-tidak.

Pernah kemarin, dia bermain handphone, dan ternyata yang kulihat sangat parah. Ahh iya,aku tak ingin membayangkannya lagi kejadian saat itu. Ahh, ini membuatku kesal. Aku mencoba melupakan lagi kejadian itu, aku berjalan keluar rumah, ada banyak tanaman di depan rumahku, mungkin bisa sedikit melegakan pikiranku. Ahh, masih mengesalkan sekali mengingatnya. Aku ingat lagi, aku menceritakan semua kejadian tentang adikku itu pada ibu dan ayah yang sudah kutunggu dari malam hari. Tapi, yang kudapat hanya kemarahan mereka. Mereka memarahi kami berdua. “Kamu sebagai kakak, Cuma masalah seperti ini saja tak bisa menghanddlenya!”, bentak ibu. Sedangkan ayahku, membanting handphone didepan adikku yang sudah menangis tersedu-sedu sambil marah-marah. Aku hanya bisa menyabarkan diri saja. Tak berani berkutik, takut menambah panas suasana.

Semilir angin berhembus sejuk, seakan menghiburku. Aku mencoba tak mengingat lagi, dengan memikirkan hal yang lain. Musim panas memang paling enak duduk-duduk di bawah pohon seperti ini. Apalagi halaman depan ini seperti taman. Saat ibu tidak sibuk dulu, ibu memang rajin merawat tanaman ini. Ibu sering mengajariku bagaimana merawatnya. Dan masih kulakukan sampai sekarang. Aku takkan tega bila ada tanaman yang rusak. Mengingat dulu, itulah yang membuatku bisa sabar untuk menanti kepulangan ibu dan ayah. Mereka begitu banyak waktu untukku. Disaat kesuksesan berpihak pada mereka, entah mereka mungkin hanya berpikir, anakku membutuhkan biaya, dan aku harus bisa memenuhinya.

Tak terasa hari sudah semakin gelap. Matahari pun sudah hampir menenggelamkan dirinya di ufuk barat sana. Tapi aku masih menanti Fajar, dia belum kembali.

“Senja..”, tiba-tiba ada yang memanggilku. Aku menengok ke luar pagar. Ternyata ibu RT yang memanggilku. “Kenapa ibu RT datang sore-sore seperti ini?”, jawabku sambil membuka pintu gerbang masuk. Ibu RT terlihat marah, mukanya sedikit merah, entah karena cahaya sore atau karena dia sedang marah. “Fajar, adikmu, pingsan di gardu pos ronda. Sepertinya dia ikut-ikutan merokok sama temen-temennya dari kampung sebelah itu. Sekarang mau di bawa ke rumah sakit naik mobil pak RT. Lebih baik kamu ikut saja sekarang.” Begitu shoknya aku mendengar kalimat itu. Aku langsung berlari ke rumah pak RT. Aku langsung masuk mobil dan melihat adikku yang sedang kesulitan bernafas. Bagaimana mungkin dia berani-beraninya merokok padahal dia punya penyakit paru-paru. Tanpa merokok saja kadang kambuh. Ingin aku memarahinya saat itu juga. Ingin sekali aku menamparnya. Namun tak ada daya aku melakukan itu semua,  aku hanya bisa diam dan memangku adikku sambil ku pegang erat tangannya yang dingin. Mukanya begitu pucat, seakan tahu semua kesalahannya. Dia pun memegang erat tanganku. Sepertinya dia kesakitan.

Aku menunggu cemas di depan ruang perawatan adikku. Orangtua tentu langsung kuhubungi sesampai di rumah sakit. Aku tak tahu, sabarku selama ini menghilang sejak kedatangan bu RT saat senja tadi datang. aku tak marah pada Fajar, tidak. Aku sangat sayang padanya. Bahkan justru aku merasa bersalah, meskipun aku sibuk dengan tugasku seharusnya aku masih bisa mengontrol adikku.

Tapi hari ini aku tetap ingin marah, sangat marah, perasaan marahku sangat memuncak. Aku sedang menanti kepulangan ayah dan ibuku. Kesendirianku di ruang tunggu saat ini, membuat pikiranku jauh berpikir, menyusun rencana untuk pemberontakan. Karena aku tahu, Fajar sudah meronta, Senja pun harus bisa melanjutkan kisah ini, dan menutupnya dengan bijak. Menutup segala pemikiran dimana kami butuh perhatian dan kasih saying mereka, bukan hanya uang mereka. Tidak hanya dengan memarahi kami saat kami terlanjur bersalah, namun tak pernah membimbing hidup kami sedikitpun. Memberi nasihat sebelum kami berlaku salah. Memberi contoh yang baik agar kami berlaku baik. Uang memang penting untuk hidup kami, tapi apalah arti uang bila hati ini juga merasa hampa.

Aku masih menunggu kehadiran orangtuaku. Aku terus berulangkali melihat jam tanganku. Masih jam tujuh malam orangtuaku masih belum datang juga. “Senja, bagaimana keadaan adikmu?” teriak suara wanita, yang jarang sekali aku mendengarnya berteriak sekencang itu. Muka wanita itu pucat sekali, terlihat sangat khawatir. “Fajar, apakah dia baik-baik saja.”, tanya seorang laki-laki yang berlari mengejar wanita itu. Mereka ibu dan ayah yang sudah kunanti sejak tadi. Sekarang muka ibu dan ayah sudah ada di hadapan wajahku. Mereka menantiku untuk menjawab pertanyaan mereka, namun entah mengapa bibir ini tak bisa bergerak sedikitpun. Ada rasa marah yang tak tertahan tapi ada juga rasa kasihan karena melihat mereka yang begitu lelah dan khawatir, bahkan terlihat menua. Mataku mulai berkaca-kaca dan akhirnya menetes tepat disaat ibuku memelukku. “ibu, minta maaf nak”, ibupun ikut menangis.

Ibukku menyesali perbuatannya kali ini. Dia benar-benar merasa terpukul akan kesalahannya selama ini. Ayahkupun mempunyai perasaan yang sama. Mereka menangis di depanku, memelukku dengan terisak. Malam pun masih berlanjut, aku, ibu, dan ayah masih menunggu berharap ada keajaiban untuk adikku. Adikku masih terkapar di ruang ICU, belum sadar. Aku mulai mengantuk dan tertidur, dalam hati masih selalu berharap agar esok hari fajar masih muncul untuk membangunkanku.

Aku terbangun, aku mendengar suara ibuku yang sangat keras. “Fajar…”,teriak ibuku. Kupikir fajar sudah sadar, tapi mengapa ibu berteriak kencang sekali, aku heran dengan keadaan itu. Aku menengok ke kamar fajar yang sudah dikelilngi oleh banyak orang. Kasur fajar tertutupi oleh adanya ayahku, ibuku, dokter, dan perawat-perawat lainnya. Ayahku terduduk lemas, sedangkan ibuku memeluk fajar dengan erat. Fajar terdiam dipelukkan ibu. Ibu mulai berangsur-angsur merasa tenang dipelukan fajar. Namun aku masih bingung dengan keadaan ini. “Bagaimana keadaan Fajar dok, apa dia baik-baik saja?” tanyaku pada dokter yang hendak keluar dari ruangan. “Maaf nak, adikmu fajar sudah tak mampu bertahan untuk hidup lagi. Maaf atas ketidaksanggupan kami untuk menolongnya.” Jelas dokter itu padaku. Aku hanya bisa mulai meneteskan air mata, mendekati ibukku dan memeluk ibuku dengan erat.

“Kau tahu nak, kenapa ibu dan ayah menamai kalian Senja dan Fajar?”ibukku mulai membuka pembicaraan  saat kami selesai menyirami dan memberi bunga di tanah kubur Fajar.  “Itu karena kami berharap kalian bisa saling melengkapi di dalam keseharian kalian dan juga keseharian kami. Sehingga kita tak pernah merasa sendiri dan selalu semangat dalam hidup. Disaat ayah dan ibu sibuk bekerja, kalian tetaplah yang membuka hari ayah dan ibu, serta menutupnya. Membuka dengan fajar dan menutup dengan senja. Itulah yang mebuat kami bersemangat untuk bekerja. Dan kebetulan sekali juga, kau Senja lahir disaat senja dan Fajar lahir saat fajar tiba.”, terang ibukku sambil ada senyum dibibirnya. Aku tak mampu menjawab apapun, karena aku tak tahu harus berkata apa. Aku hanya terdiam. “Mungkin selama ini kita tak menyadari, bahwa bukan hanya anak saja yang melengkapi keduaorangtuanya, tetapi peran orangtua harus membuat anak merasa lengkap dalam kesehariannya. Dulu kami pikir dengan kalian berdua saja di rumah sudah terasa lengkap dan kami berusaha mencari uang agar kehidupan kalian bisa terpenuhi dengan baik, agar kami bisa membelikan apapun yang kalian ingini. Tetapi ternyata pendapat kami salah. Kalian merasa kehilangan kami, dan tak punya tujuan untuk hidup. Tak punya pelengkap dalam hidup kalian. Sehingga kalian tak semangat untuk hidup dan tak ada akal lagi untuk membedakan mana yang baik dan buruk.”, lanjut ibu. “Maafkan ayah dan ibu nak”, ibu memalingkan wajahnya ke arahku. Aku pun menjawabnya dengan senyuman lalu memeluk ibuku, dan ayahku memeluk kita berdua. “Ayah juga minta maaf nak.”bisik ayah.

Fajar telah tiada. Bagaimana senja merasa lengkap tanpa adanya fajar. Senja pasti akan lelah bila tak ada fajar. Tak ada yang menemani lagi dalam waktu sehari. Dimana biasanya fajar yang membuka hari dan senja yang menutup hari. Senja pasti akan merasa lelah untuk hidup karena tak ada yang membantunya membuka hari. Dia harus berusaha sendirian untuk mengindahkan harinya. Tak akan ada fajar-fajar yang lain yang bisa menganti fajar untuk menemani senja. Tetapi aku yakin, adik kesayanganku, kini sudah benar-benar menjadi fajar yang muncul di pagi hari. Tak mengapa tak ada wujudnya, tapi aku yakin, dia selalu akan datang saat fajar mulai di ufuk timur, dan aku masih akan bisa menyapanya lalu mengajaknya pulang saat senja di ufuk barat telah datang.

-NARU - 2016-

Komentar