Uji Kesabaran

 Dunia ini adalah tempat uji kesabaran. Semisal begini. Hal sederhana ini. Pasti sering sekali terjadi.

Pakaian yang masih asyik berjemur  dikawat panjang, bergelantungan. Sepersekian detik kuhirup gas oksigen lalu kulepas lagi. Menatap awan. Jeri sekali. Awan awan menggelung, memekat, mengabu. Meronta ingin menangis. Padahal tadi, duhai indahnya sinar terik menyengat kulitku saat aku menjemur baju bajuku.

Apakah mungkin awan muak menghirup aroma wewangian yang menguap dari serat serat kainku? Ataukah ia hanya sedang bertengkar dengan matahari?

Hahhh.. Baru saja aku menarik nafas 10 kali. Masalahnya bukan hanya 5 baju, namun paling tidak ada 20baju ditambah seprai selimut dan juga alas tikar.

Sepertinya keluhanku tidak akan didengar alam. Buktinya, rintikam itu datang, bertambah banyak, lalu deras. Baiklah, aku  angkut lagi.


Kududuk menyandar tembok, kelelahan. Cuapan nafas naik turun. Mendera seperti hujan yang sedang turun.

Hah... besok mau pakai baju apa? Bajuku sudah habis.

Kumasukan tubuhku ke ruang dalam, meninggalkan baju baju basah yang malah semakin basah.

Baru kududuk di ranjang kamar. Gerujukan yang kudengar seakan melambat, lalu lenyap. Kutengok jendela. Jrassshh. Awan menggulum berarak mulai menerang. Matahari mulai berani tampil malu malu. Astaga.. mereka mengerjaiku???

Dan yahh 30menit berlalu, kamar jendelaku penuh dengan sinar dan bau hujan.

Baiklah besok ku tak ada baju. Sabarlah wahai diri... Aku jemur lagi pakaianku dengan penuh sabar dalam hatiku. Dann.

Boleh ditebak. 2 jam kemudian. Selagi Kutidur tidur dikamar. Kukira baju itu belum mengeluarkan kadar airnya 100%. Awan merajuk lagi.


@!/@$@!!!!#


Kurenggut lg baju ku. Lalu kutidur. Tidak peduli lagi tentang besok mau pakai baju apaaa.


-naru

Komentar