Ibu

Kali ini aku ingin sekali membahas orang nomer satu dihidupku. Di perantauan ini aku merasa sangat merindukannya. Tempat dimana pertama kali aku bertumbuh.

Orang yang selalu paling cerewet, selalu membuat suasana rumah tidak pernah tenang. Kebersihan rumah adalah hal utama yang menjadi perhatiannya. Jika rumah tidak dibereskan sudah pasti tingkat kecerewetannya akan seribu kali lipat lagi. Jika segala mainan yang kumainkan tak kurapihkan mungkin telingaku akan memerah terkena serangan jewernya. Tumpukan cucian piring tak dicuci, pasti akan mengomel sepanjang hari. Omelan takkan berhenti, sampai sore menjelang malam ketika sedang duduk bersama menonton tv sambil memakan cemilan,"Anak gadis itu ya harus bisa gesit, jangan semua mengandalkan ibunya. Memangnya nanti kalau sudah punya suami mau membiarkan rumah berantakan. Bisa ditinggal suaminya nanti." Dan bla bla bla, mungkin aku hanya ingin menikmati gorengannya saja. Sudah tak acuh lagi, sudah aku dengar berulang-ulang kali. Seringkali aku mengeluh, mendumel sendiri karna sikapnya. Ia itulah ibuku. Ibu paling waswas sedunia apalagi dalam menilai keadaan rumah. Ibuku seorang pekerja buruh. Biasanya ia berangkat pagi lalu pulang sore. Sedang aku adalah pelajar. Biasanya sepulang sekolah, aku harus membereskan rumah. Jangan sampai berantakan dan lantai harus tidak boleh kotor. Pernah di waktu aku tidak memanaskan makanan, (agar makanan tidak basi), langsung ibu memarahiku habis habisan. Jelas saja, karna sesorenya saat ibu pulang, makanannya basi tidak bisa dimakan. Terkadang aku merasa tak diberi pemakluman. Kenapa harus marah-marah. 

Suatu saat aku pernah jatuh sakit. Perutku sakit sekali rasanya. Aku hanya bisa terbaring di tempat tidur. Ibu dan bapak belum pulang. Beruntungnya rumah sudah cukup rapih. Jadi aku biarkan saja. Saat ibu pulang, aku masih terbaring di kamar. Bapak masih belum pulang, terkadang memang lembur kerjanya. Ibu langsung cek ke kamarku. Ibu memang paling waswas di dunia ini. "Dek.. Kenapa, kok masih tidur-tiduran?" 
"Sakit perut bu.." lirihku sambil menahan sakit aku menengok ke arah ibu. Benar saja, tak terfikir ia punya lelah dirautnya. Langsung memegang dahiku memastikan panas suhu tubuh. "Udah makan belum? Ibu tak buat teh hangat." Aku hanya menggeleng. "Susah berdiri", kataku. "Ibu buatin bubur ya. Harus makan.". Ibu memang yang tercekatan sedunia. Memberikan perawatan yang terbaik. Dan makanan terbaik adalah buatannya.
Selang beberapa menit ibu bolak balik kamar, melihat kondisiku. Memberikan botol hangat untuk mengompres perutku supaya jika itu angin bisa cepat keluar. Dan setelah bapak pulang ibu langsung mengantarku berobat. Tentu saja harus menunggu bapak pulang, karna cuma satu motor saja. 
Dan aku yakin ibu adalah orang yang terakhir untuk tidur. Memastikan aku sudah tidur. 

Saat diperantauan ini aku sedang sakit. Tidak ada yang menemani. Aku harus berobat sendiri. Tidak ada yang memasak untukku. Betapa aku rindu sekali omelannya. Dan sekarang aku berfikir apakah aku bisa memberikan perawatan sebaik ia merawatku nanti.?

Setelah diingat-ingat, sewaktu kecil, tentu saja ibu adalah tempat teraman buatku.
Kalau di manapun aku diajak pergi, ketika aku ingin sesuatu, ibuku paling peka, ia langsung menanyaiku, mau apa. Karena ibuku galak, sebenarnya aku sedikit takut untuk dimarahi. Namun aku tahu ibuku itu kalau membanggakanku sungguh sampai buat aku tersipu. Aku merasa paling aman jika bersama ibu. Ibuku cerewet sehingga aku tak perlu takut pada siapapun. Nanti kalau ada yang nakal tinggal laporan saja sama ibuku. Ibu pasti akan melindungiku. Beginilah fikiranku saat kecil. Ibuku juga yang selalu membuatku bekal makanan sekolah. Belum lagi ibu yang memasukkan uang ke sakuku. Ibuku yang memijatiku saat aku keseleo. Ibuku yang mengantarku ke tukang cukur rambut. Ibuku yang selalu ada disampingku. Masih teringat juga ibu yang selalu menyisir rambutku.

Ibuku cerewet dan ibuku adalah pahlawanku.
Tempat pertama kali aku bertumbuh. Apakah ketika aku sudah tumbuh menjadi seperti pohon yang besar bisa memberikan kesejukan untuknya? Semoga saja aku bisa menjadi tempat yang nyaman untuk nya.

Besok bahas bapak.
naru, 16/2/19-


Tambahannn----
tulisan tentang ibu saat zaman kuliah wkwkkw

Disempitnya malam kusempatkan sedikit untuk bercerita.
Mengenai kesibukan yang sedang kuderita.
Mencoba menghindar dari segala kudeta.
Yang membuat onar dan menjadi banyak salah prasangka.
Ibuku yang nan jauh disana.
Merindu berharap ingin bertemu.
Melangsa merana tak tahu arah kemana.
Yang ada malah hanya sampai ke sudutnya pintu.
Tak lupa kembali merasakan jaman modern
Ku suguhkan saja remot ku dengan pulsa
Lalu kukunjungkan nomer demi nomer yang tertera
Menghubungi malaikatku yang sedang merindu itu.
Satu dua detik hingga yang keseribu
Akhirnya aku mendengar suaramu
Saling menyalamkan sejahtera dan keselamatan
Karena kita tetap tak boleh lupa ajaran.
Banyak hal yang kau lontarkan
Kewalahan aku menjawab Segala rentetan pertanyaan
Hingga usai menutup aku sesenggukan
Karena aku tahu, kata-katamu sunggu menyimpan rasa sayang yang dalam.
Sedikit terngiang ngiang dalam lubuk hati
Akan suatu pernyataan mu itu tadi
Bahwa bila ku kesusahan ceritakan saja secara rinci
Agar tak ada beban yang harus di tampi
Dan dia siap membantu segala cara untuk memenuhi
Padahal aku tahu dia lebih kesusahan
Bisa bisanya dia berkata seperti yang berkesudahan
Seakan akan dia sendiri sedang tak menanggung beban
Sungguh, sungguh sangat mulia dirimu.
Aku sangat malu bila aku tak bisa membelamu dan menjagamu.
Entah orang berpikir apapun tentang dirimu.
Tapi, dirimu sungguh sangat mulia di mataku.
Salam cinta dan rindu
Dari anakmu, Ibu

-naru/ lupa kapan gak ada tandanya-

Komentar